Mengapa Merekrut OD Manager Saat Transformasi Organisasi adalah Ide yang Buruk?

Transformasi perusahaan bukanlah hal yang mudah, karena perubahan yang signifikan harus terjadi di seluruh organisasi agar mencapai tujuan yang diinginkan. Salah satu aspek penting dari transformasi adalah pengembangan organisasi (OD), yang mencakup perubahan kultur, sistem, dan proses untuk meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan organisasi.

Namun, merekrut seorang OD manager selama transformasi bisa menjadi ide yang buruk jika tidak dilakukan dengan tepat. Ada beberapa alasan mengapa merekrut OD manager selama transformasi bisa menjadi ide yang buruk, di antaranya:

Pertama, tidak semua perusahaan memerlukan OD Manager. Setiap perusahaan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Jika perusahaan tidak memerlukan pengembangan organisasi yang signifikan, merekrut OD manager mungkin akan menjadi tidak relevan paska perubahan. Jangan-jangan setelah transformasi, malah jabatan itu menjadi mandul alias tidak lagi produktif.

Kedua, biaya yang tinggi. Merekrut OD manager selama transformasi akan membutuhkan biaya yang cukup besar, terutama jika perusahaan membutuhkan seseorang dengan pengalaman dan keterampilan khusus. Jika perusahaan tidak memiliki anggaran yang cukup untuk merekrut OD manager, maka ini bisa menjadi beban yang besar bagi perusahaan. Anggaran sebaiknya dialokasikan pada area yang lebih strategis misalnya untuk membantu anggota organisasi beradaptasi dengan perubahan.

Ketiga, terlalu fokus pada pengembangan organisasi. Meskipun OD manager memiliki peran penting dalam pengembangan organisasi, terlalu fokus pada pengembangan organisasi selama transformasi bisa mengakibatkan perhatian pada aspek lain dari transformasi menjadi terabaikan. Hal ini bisa menghambat kemajuan transformasi secara keseluruhan. Perlu diingat bahwa transformasi organisasi selalu menyasar pada proses inti. Jangan sampai perhatian ini menjadi teralihkan pada aspek yang dapat dikejar belakangan.

Keempat, keahlian yang kurang sesuai. Merekrut OD manager yang tidak memiliki keterampilan atau pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan selama transformasi bisa menjadi ide yang buruk. Jika OD manager tidak mampu memimpin perubahan organisasi dengan efektif, maka transformasi bisa gagal. Meskipun posisi ini bersifat umum, pengalaman terhadap industri yang pernah dibidangi akan memberikan perspektif yang lebih konkrit atas transformasi yang sedang dilakukan. Bayangkan jika kita merekrut OD Manager dengan pengalaman di bidang Manufaktur saat kita berniat membangun budaya layanan. Jaka sembung naik ojek kan jadinya?

Kelima, kurangnya keterlibatan para pemangku kepentingan. Transformasi tidak hanya tentang pengembangan organisasi, tetapi juga tentang keterlibatan semua pemangku kepentingan, termasuk pemimpin, karyawan, dan pelanggan. Jika OD manager tidak mampu membangun keterlibatan yang kuat dari semua pemangku kepentingan, maka transformasi bisa gagal. Pemahaman ini kerapkali lolos dalam pertimbangan manajemen puncak. Akibatnya, transformasi dipandang ada di luar sana, bukan pada diri sendiri. Meletakkan beban transformasi pada OD Manager juga menjadi blunder yang besar. Padahal kunci sukses transformasi ada pada keterlibatan bersama, dari bawah sampai atas.

Secara umum, merekrut OD manager selama transformasi bisa menjadi ide yang buruk jika tidak dilakukan dengan tepat. Perusahaan harus memastikan bahwa mereka memerlukan OD manager, memiliki anggaran yang cukup untuk merekrut OD manager, dan OD manager memiliki keterampilan dan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan transformasi. Selain itu, OD manager harus mampu memimpin perubahan organisasi dengan efektif dan membangun keterlibatan yang kuat dari semua pemangku kepentingan.

Godaan untuk merekrut seorang OD Manager memang sangatlah besar di saat kita ingin melakukan perubahan organisasi. Namun, sebenarnya ada banyak pilihan bagi perusahaan selain hanya merekrut OD Manager guna melangsungkan hajat hidupnya.

Pertama-tama, perusahaan bisa mempertimbangkan untuk merekrut konsultan atau ahli yang spesialis dalam bidang tertentu. Misalnya, jika perusahaan ingin meningkatkan efisiensi operasional, bisa mempertimbangkan untuk merekrut konsultan manajemen operasional. Jika perusahaan ingin meningkatkan strategi pemasaran, bisa mempertimbangkan untuk merekrut konsultan pemasaran. Dengan merekrut konsultan yang spesialis dalam bidang tertentu, perusahaan bisa mendapatkan saran dan pandangan yang lebih tepat sasaran untuk mencapai tujuan transformasi organisasi.

Kedua, perusahaan bisa mengoptimalkan sumber daya manusia (SDM) yang sudah dimiliki untuk memimpin transformasi organisasi. Perusahaan bisa memberikan pelatihan dan pengembangan kepada SDM yang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin transformasi organisasi. Selain itu, perusahaan juga bisa membentuk tim kerja khusus yang terdiri dari SDM yang memiliki keahlian dan kemampuan tertentu yang dibutuhkan dalam transformasi organisasi.

Ketiga, perusahaan bisa memanfaatkan teknologi dan alat bantu lainnya untuk mendukung transformasi organisasi. Perusahaan bisa mengimplementasikan perangkat lunak manajemen sumber daya manusia (HRM) atau sistem manajemen bisnis (ERP) untuk membantu proses transformasi. Selain itu, perusahaan juga bisa memanfaatkan alat bantu lainnya seperti media sosial, aplikasi kolaborasi, atau platform e-learning untuk mendukung transformasi organisasi.

Keempat, perusahaan bisa memanfaatkan jaringan dan hubungan bisnis untuk mendukung transformasi organisasi. Perusahaan bisa melakukan kerja sama dengan mitra bisnis atau bergabung dengan komunitas bisnis yang sejenis untuk bertukar informasi dan pengalaman terkait transformasi organisasi. Selain itu, perusahaan juga bisa memanfaatkan jaringan alumni atau lembaga pendidikan untuk merekrut SDM yang memiliki keahlian dan kemampuan yang dibutuhkan dalam transformasi organisasi.

Dalam melakukan transformasi organisasi, perusahaan tidak selalu harus merekrut OD Manager. Ada banyak pilihan lain yang bisa dipertimbangkan seperti merekrut konsultan spesialis, mengoptimalkan SDM yang sudah dimiliki, memanfaatkan teknologi dan alat bantu lainnya, serta memanfaatkan jaringan dan hubungan bisnis. Dengan memilih strategi yang tepat, perusahaan bisa mencapai tujuan transformasi organisasi dengan lebih efektif dan efisien.


Comments

Leave a comment