Portofolio Karier – Dari awal sampai ke tengah

Suatu waktu saya memproses sebuah permintaan manpower untuk posisi desainer grafis. Secara spesifik user meminta syarat bagi para pelamar mengirimkan surat lamaran disertai portofolio, bisa berbentuk fisik atau diwadahi sebuah compact disc (CD). Terbesit tanya, mengapa tidak semua user meminta hal yang sama. Seakan yang memiliki portofolio hanyalah desainer grafis seorang saja. Jika suatu jabatan mampu menyusun dan mengedarkan portofolionya, bukankah selayaknya semua jabatan juga bisa?

Sempat juga saya tanyakan ke kolega mengenai hal ini, namun menurut beberapa orang yang pantas saya sebut senior waktu itu, portofolio jabatan lain bisa diketahui dari proses interview. Saya mengangguk mempertontonkan penghormatan saya kepada sang senior. Namun, rasa aneh tak terbendung mengalir ke seluruh cerebri. Sejauh mana hasil wawancara menggambarkan hasil karya seseorang.

Seorang ex-manajer bisa bercerita kisah suksesnya menjalankan suatu departemen dengan capaian yang fantastis. Seorang ex-sales bisa berseloroh tentang capaian penjualan yang ia torehkan di pekerjaan sebelumnya. Toh, cukup cerita yang ditunjukkan selama wawancara. Benar tidaknya cerita itu masalah pewawancara dalam menafsir. Kecuali menggunakan alat deteksi kebohongan, saya yakin cerita-cerita tersebut sangat mungkin diperdebatkan.

Biar bagaimanapun, wawancara masih berguna dalam proses seleksi. Setidaknya untuk mengungkap potensi seseorang di masa depan, atau mememeriksa pemahanan dan kedalaman atas suatu pengetahuan. Namun, jika kita bicara tentang portofolio, maka bentuk penyajian yang terpersonalisasi pun menjadi bagian dari kualitas yang dinilai. Jadi portofolio lebih luwes dan tidak mengandung pakem tertentu. Media portofolio yang sebelumnya menggunakan perangkat keras pun saat ini bisa tergantikan dengan media sosial. Seluwes itulah portofolio. Kembali lagi, pada akhirnya saya sadar, setiap orang butuh berkarya, setiap karya butuh diabadikan. Portofolio adalah wujud kebadian suatu karya. Apapun bentuknya.


Dalam konteks pengembangan karier, portofolio mengambil peran sentral. Ia adalah wajah dari employability, atau suatu gambaran tentang seberapa menarik seseorang untuk dipekerjakan (diberi pekerjaan). Portofolio berdiri di garda terdepan bagi seseorang untuk dikenali keahlian atau kemampuan yang dimilikinya. Sejatinya, seorang rekruter cukup melihat portofolio seseorang untuk mengungkap 80% dari gambaran profil kandidat yang dibutuhkannya.

Selain sebagai wajah, portofolio juga menjelma sebagai pengingat bagi pemilik mengenai apa yang telah baik dan apa yang perlu diperbaiki. Sebagai bentuk nyata dari suatu pekerjaan, portofolio menampilkan kuallitas pekerjaan kita apa adanya. Pemiliki portofolio dengan mudah melakukan refleksi dan evaluasi terhadap hasil kerja dalam rangka pengingkatan kualitas di kemudian hari.

Uniknya, portofolio seseorang bukan semata menjadi bahan refleksi bagi dirinya. Portofolio harus disebarkan ke publik. Jika dikumpulkan saja dan disimpan, maka itu hanya menjadi kenangan. Hanya dibuka jika ingin mengenang. Sebaliknya, portofolio adalah sebuah publikasi, maka harus bersifat publik. Dengan begitu, portofolio seseorang dapat menjadi sumber refleksi dan inspirasi bagi yang lainnya.


Berdasar latar belakang di atas, itu mengapa sudah waktunya saya secara pribadi menempatan portofolio karier ke dalam bagian yang tidak terpisahkan dari website ini. Selain untuk kebutuhan pribadi, saya berharap bisa memberikan sumbangsih pembelajaran bagi siapapun yang akan membacanya. Jadi, selama beberapa waktu ini, saya akan menempatkan hasil kerja saya di bidang HR dan Organisasi di suatu page khusus untuk dapat dinikmati secara publik.