Membangun Super Team Menggunakan MBTI

MBTI telah menjadi salah satu alat ukur kepribadian yang sangat powerful dalam membantu pemimpin (leaders) mengelola tim. Kemampuan MBTI menjelaskan beragam kepribadian individu dari sisi pengelolaan energi lebih membantu leaders dalam menempatkan the right man on the right sekaligus membangun interaksi setara, daripada alat ukur lain, katakan misalnya DiSC. Berbeda dengan DiSC yang menunjukkan mentalitas atau sikap individu di beberapa situasi tertentu, MBTI cenderung memberikan gambaran spesifik bagaimana seseorang mendapatkan energi, memilih referensi dalam menyalurkan energi, dan mengambil serta menjalankan suatu keputusan.

Kepraktisan MBTI inilah yang dapat membantu leaders bukan hanya memilih peran yang pas untuk anggota timnya, melainkan juga membangun pola komunikasi efektif bersama dan antar anggota tim. Untuk leaders baru, penting memahami pola kepribadian bawahan sebelum mengambil keputusan atas peran dan tanggung jawab masing-masing anggotanya. Untuk leaders lama, pemetaan kepribadian akan membantunya lebih paham apa yang membuat tugas yang sama dilaksanakan berbeda oleh anggota tim yang berbeda.

Itu mengapa di penghujung tahun 2009 saya memutuskan membantu kantor tempat saya bekerja melakukan mapping MBTI personality kepada +/- 40 orang yang bekerja di kantor kecil itu. Proses mapping dilakukan selama +/- 3 minggu dengan mengembangkan beragam alat bantu. Saat itu, saya yang hanya menjabat sebagai sales executive tidak memiliki akses untuk menyebarkan kuisioner yang bisa diisi secara langsung oleh ke-40 anggota tim. Oleh karenanya, alat bantu yang saya gunakan untuk proses mapping meliputi observasi langsung dan non-directive interview kepada masing-masing orang.

Non-directive interview dilakukan dalam konteks keseharian, yaitu pada saat berinteraksi dalam kerja. Tidak ada persiapan khusus untuk memulai non-directive interview. Saya hanya diharuskan selalu waspada (bersiap) menerima fakta-fakta yang muncul dalam percakapan dengan orang yang sedang saya “mapping” MBTI personality-nya. Cara ini lebih lama namun bisa jadi lebih kaya fakta.

Salah satu tantangan dalam melakukan non-directive interview adalah kepada bos besar yang notabene memiliki latar belakang budaya yang berbeda karena beliau seorang WNA. Saya harus sedikit menyelami makna kata tertentu yang memiliki perbedaan arti kontekstual dengan bahasa Indonesia. Selebihnya, proses ini cukup mudah. Saya bisa lakukan di meja kerja, di ruang rapat, di ruang pantry, di gelanggang futsal maupun di area parkir. Pada hari ke-10 seluruh data sudah saya kumpulkan.

Saatnya merangkum dan menganalisis!

yang menarik dari MBTI adalah kesederhanaan struktur analisisnya. Ada 4 (empat) variabel kepribadian yang dikombinasikan, namun uniknya variabel tersebut bisa dianalisis sendiri-sendiri tanpa harus dikombinasikan satu dengan yang lain. Masing-masing variabel terdiri dari 2 tipe yang absolut yang harus dipilih. Artinya, jika bukan yang satu (A), maka yang satunya (B). Tipe kepribadian MBTI terdiri dari 4 kombinasi variabel kepribadian. Sesimpel itulah analisis MBTI.

Dalam studi ini, selain menggunakan 4 kombinasi variabel kepribadian MBTI, saya juga mengadopsi konsep Keirsey Temperament Sorter (KTS). Dengan menggunakan KTS, saya mengklasifikasika ke-16 tipe kepribadian MBTI ke dalam 4 kelas besar berdasarkan kombinasi berikut: [1] NT – Intuitive/Thinking = Rational; [2] NF – Intuitive/Feeling = Idealist; [3] SJ – Sensing/Judging = Guardian; dan [4] SP – Sensing/Perceiving = Artisan.

Tabel Hasil Pemetaan MBTI.

Dari tabel di atas diketahui bahwa organisasi dipimpin oleh dua orang yang menggunakan intuisi dalam menjalankan bisnis. Dua orang tersebut sangat efektif mengambil keputusan bisnis secara strategis, biarpun salah satunya mengedepankan perasaan dalam membuat keputusan. Namun, hal ini tetap tidak mengganggu proses pengambilan keputusan yang efektif.

Turun di level manajemen lini, persebaran kepribadian cukup luas. Masing-masing tipe temperamen terisi oleh minimal 1 orang manajer. Menariknya, para manajer sales & marketing tersebar di 3 tipe kepribadian. Tampak sekali ketiganya memiliki cara masuk yang berbeda di setiap pasarnya masing-masing. Manajer rational cenderung lebih agresif dalam mengelola pasarnya ketimbang yang lain. Manajer guardian mampu mengelola tim dengan efektif, termasuk membangun kerjasama tim yang kompak. Adapun Manajer artisan, memperlihatkan sisi kreatif yang tinggi dalam menjalankan tim dan pekerjaannya.

Memiliki manajer operasional guardian merupakan jaminan terselenggaranya kegiatan operasional yang handal dan terpercaya. Biar begitu, anggota tim operasional tersebar di berbagai kuadran yang berbeda. Dalam kondisi ini, mau tidak mau manajer operasional harus mengaktifkan tipe kepemimpinan bertangan besi, meskipun itu besi dingin.

Manajer keuangan dan administrasi berada di kuadran idealist, menggambarkan kesetiaan yang tinggi terhadap organisasi dengan tetap mengedepankan visi perusahaan sebagai visi personalnya. Tantangan manajer ini tidak terlalu besar karena sebagian besar anggotanya masuk di kuadran guardian. Manajer yang loyal dibantu oleh tim yang patuh. Pola interaksi di tim ini kerap terbatas pada teknis pekerjaan saja. Tidak sedinamis tim sales dan marketing atau tim operasional.

Tim legal dan pengembangan bisnis telah berada di kuadran yang tepat. Manajer rational dibantu seorang anggota tim idealist. Ide visioner top leader menjadi bahan bakar yang tak kunjung padam bagi tim ini.

Sebagai kesimpulan, organisasi ini cukup efektif dan mampu berkerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Fungsi-fungsi non-bisnis diisi oleh orang-orang yang tepat. Satu hal yang patut diperhatikan adalah pentingnya mengelola dinamika di tim sales dan marketing. Salah penanganan akan membuat bencana resignation yang akut.


Comments

Leave a comment